Contoh Cerpen



Kado untuk Rachel
Karya Nur Chamidah

            Di sebuah kota yang ramai nan padat, hiduplah seorang keluarga yang sangat bahagia. Mereka saling memperdulikan satu sama lain, sampai terjadi suatu hal yang membuat kedekatan itu kian merenggang. Kerenggangan itulah yang membuat hilangnya sebuah nyawa yang sangat berharga, bahkan di saat hari bahagianya.
            Rachel Putri Baskoro, begitulah nama gadis itu. Gadis berusia 13 tahun. Meski usianya masih muda belia, pemikirannya sudah seperti orang dewasa. Kata – katanya santun, perangainya lembut, bahkan ia banyak disenangi teman – temannya karena ia gadis yang cukup cantik dan juga baik. Selain itu, ia juga merupakan murid yang pandai di sekolahnya. Tak jarang ia mendapatkan peringkat yang bagus di kelasnya. Rachel, begitulah orang – orang memanggilnya. Terlahir dari keluarga yang hidupnya bahagia. Rachel memiliki dua sahabat yang sering menemaninya. Mereka adalah Salma dan Alana.
*****
            Fajar telah menyingsing, matahari telah berisap dengan gagahnya menyinari bumi Pencipta. Rachel tengah bersiap menuntut ilmu untuk masa depannya. Meski dirasakan kepalanya sakit, ia tetap mengusahakan untuk datang ke sekolah. Sejak keci, ia bercita – cita menjadi guru dan membantu anak – anak Indonesia yang mengalami kesulitan dalam belajar. Setelah selesai beres – beres, ia mengambil tas dan ia letakkan di keranjang sepeda. Rachel adalah gadis yang mandiri sehingga ia tidak mau merepotkan orang tuanya untuk mengantarnya ke sekolah.
“Ayah, Ibu, Rachel pamit ya,” ucapnya sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
 “Hati – hati Rachel, jangan lupa berdoa sebelum berangkat!” pesan ayahnya.
“Iya yah, insyaaAllah Rachel akan baik – baik saja.”
“Jangan lupa makan bekalmu nak!” ibu mengingatkan.
“Iya ibu, ya sudah Rachel berangkat dulu ya nanti takutnya terlambat. Assalamualaikum,” pamit Rachel.
“Waalaikumsalam,” jawab ibu.
Gadis itu mangayuh sepedanya menuju tempat ia akan menimba ilmu yang bermanfaat saat ini dan di masa depan. Dua puluh menit berlalu hingga sekarang ia sampai di sekolahnya. Ia selalu menyempatkan untuk mencium tangan bapak ibu guru yang ada di depan gedung sekolah. Bahkan, ia juga mencium tangan bapak penjaga pintu gerbang yang sekaligus menjadi tukang bersih – bersih disekolahnya. Rachel melangkah pelan menuju kelasnya yang terletak di ujung, dekat lapangan basket. Meski hari sudah siang, banyak siswa yang belum datang ke sekolah ditandai dengan sepinya ruang kelas yang ada.
“Assalamualaikum,” ucap Rachel begitu memasuki ruang kelasnya.
“Waalaikumsalam,” balas teman Rachel yang sudah ada di kelas sambil tersenyum kepada Rachel. Rachel memang anak yang ramah pada siapapun, tak terkecuali pada anak – anak yang nakal sekalipun. Tak lama kemudian siswa lainnya mulai berdatangan hingga belpun berbunyi.
“Rachel kamu kok pucat banget?” tanya salah satu teman Rachel ketika melihat wajah Rachel yang sudah pucat.
“Iya, aku sedikit pusing nih,” jawab Rachel
Salma dan Alana yang mendengar perkataan Rachel tersebut langung menghampirinya dan berkata, “Yaudah kita ke UKS aja yuk, biar kamu bisa dapat pengobatan.” Rachel pun mengangguk yang merupakan jawaban dari pertanyaan kedua temannya.
Sebelumnya, Rachel memang sering sakit kepala tetapi tidak dirasakan oleh Rachel. Dia mengira ini hanya sakit pusing biasa karena kelelahan. Kondisi Rachel tidak kian membaik sehingga ia harus tetap berada di UKS sampai jam pulang sekolah. Belpun akhirnya berbunyi. Kedua sahabat Rachel segera menghampiri Rachel yang berada di UKS dan hendak mengantarnya pulang.
Ketika sampai di rumah, tidak ada siapapun yang menyambut mereka hanya kehampaan yang ada. Memang kedua orang tua Rachel memang sangat sibuk tetapi biasanya Ibunya Rachel selalu ada di Rumah ketika Rachel pulang. Tak lama kemudian, kedua sahabatnya mengantar Rachel menuju kamarnya. Mereka adalah sahabat yang sangat berarti bagi Rachel karena di kala kedua orangtuanya tidak ada Salma dan Alanalah yang menemani Rachel. Salma dan Alana membantu Rachel untuk makan dan minum obat hingga mereka menunggu Rachel tertidur. Tak bisa dipungkiri, kedua sahabat Rachel memang sering curiga terhadap Rachel yang sering sakit kepala. Hari sudah semakin sore hingga akhirnya Salma dan Alana pamit untuk pulang ke rumah.
*****
Sudah empat hari Rachel tidak masuk sekolah. Hal itu membuat seisi kelasnya bertanya. Teman – temannya merasakan rindu pada Rachel, terlebih kedua sahabatnya Salma dan Alana. Akhirnya, kedua sahabat Rachelpun mengunjungi rumah Rachel tetapi sepi tidak ada siapapun. Ponselnya pun tidak aktif. Keduanya sudah bertanya pada wali kelasnya tetapi jawaban yang mereka dapatkan tetap tidak dapat menghilangkan rasa cemas mereka.
Sementara itu, di ruangan yang penuh dengan alat – alat yang bahkan tidak semua orang mengerti menganai alat tersebut, terbaring gadis yang cantik. Ibu gadis itu menunggu dengan sabar, sambil terus memanjatkan doa untuk putri tercintanya.
“Sayang, bangun Nak. Ibu kangen sama Rachel. Ayo bangun nak, inget Rachel masih punya sahabat dan ada ayah ibu yang senantiasa sayang kepada Rachel,” ucap sang ibu sambil membelai kepala putrinya dengan sayang.
Tiba – tiba dokter datang ke ruangan itu.
“Bu maaf, kami harus memeriksa kondisi Rachel.”
“Baik dokter, silakan.”
Bu Laras keluar ruangan dengan sedih, berharap tidak terjadi sesuatu yang membuatnya kehilangan putri satu – satunya yang dicintainya. Ia senantiasa berdoa kepada Sang Maha Pencipta. Ia masih ingin melihat tawa anaknya. Berikan anak gadisnya untuk melihat kembali dunia yang indah ini. Ibu menghapus air mata yang jatuh membasahi pipinya. Bagaimanapun, ia tetap harus tegar walaupun ia merasa sesak buah hati tersayangnya tak kunjung membuka matanya.
Dua minggu berlalu.
Doa – doa yang orang – orang panjatkan terkabul. Gadis yang orang – orang sayangi telah kembali meskipun sempat ada kemungkinan ia tidak akan kembali. Dua minggu berlalu sampai akhirnya Rachel kembali sadar. Orang tuanya bersyukur sekaligus bahagia mendengar kebar tersebut.
“Sayang, ibu senang Rachel kembali. Ibu rindu sekali dengan Rachel.” Ucap Sang Ibu sambil meneteskan air mata harunya.
“Rachel juga rindu sekali dengan ibu. Rachel ingin ditemani terus. Rachel ingin disuapi ibu,” balas Rachel.
“Oh iya ibu, Ayah kemana? Kok saaat Rachel bangun tidak Ayah tidak ada.” tanya Rachel saat ia tidak melihat ayahnya di ruangan bernuansa putih itu. Rachel memang sudah dipindahkan ke bangsal karena kondisinya kian membaik.
“Ayah sedang ada urusan penting sayang, jadi Rachel harus memaklumi Ayah ya.”
“Iya ibu.”
*****
Sudah tiga hari kondisi Rachel semakin membaik. Memang tidak ada yang mengetahui Rachel sedang sakit, mereka tidak ingin membuat khawatir teman – teman Rachel. Namun, dibalik itu semua perusahaan Ayah Rachel berada di ambang kehancuran. Ayah Rachel ditipu temannya sendiri. Seperti saat ini, Ayahnya terus memperbaiki keadaan tersebut karena ratusan karyawan juga berada di ambang bahaya. Ayah Rachel tidak tega melihat karyawannya harus menjadi pengangguran.
Hari ini adalah hari ulang tahun Rachel sehingga ia genap berusia empat belas tahun. Sedihnya, hanya Rachel yang ingat akan hari tersebut. Kedua orang tuanya masih sibuk memperbaiki perusahaanya. Rachel memahami bahwa itu juga demi kebaikan semua orang termasuk Rachel. Di saat bersamaan pula, ia juga sedih karena waktu berkumpul dengan keluarganya menjadi berkurang.
“Sayang, sarapannya sudah diantar oleh suster ini. Makan yuk,” ajak ibu Rachel.
“Iya ibu. Rachel mau disuapi ibu.” pinta Rachel
Ibu pun menyetujui permintaan Rachel itu. Namun, ketika akan menyuapkan makanan kepada Rachel tiba – tiba ponselnya berbunyi. Mau tak mau ia mengangkatnya karena yang menelepon adalah suaminya. Setelah berbincang – bincang sejenak, ibu pamit kepada Rachel.
“Rachel, ibu pergi dulu ya. Saat ini, Ayah sedang membutuhkan Ibu. Rachel makan sendiri ya nak. Rachel kan anak pintar.” jelas ibu sambil meletakkan makanan di nakas.
“Baik ibu.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” jawab Rachel. Seketika itu, ia sedih. Kini ia sering ditinggal kedua orang tuanya. Ia sadar mereka meninggalkannya demi kebaikannya kelak, tetapi apakah ketika sakit ia harus terus ditinggal. Rachel meneteskan air mata sedihnya. Ia sedih.
Ketika akan mengambil makanan di nakas, Rachel terjatuh. Penyakitnya kambuh lagi. Dia sendiri. Dia tidak bisa apa – apa. Bahkan, untuk memanggil dokterpun tidak bisa. Kondisinya semakin parah, ia juga menjadi kesulitan bernapas. Penglihatannya mengabur hingga ia akhirnya mengalah. Sulit mempertahankan ini semu. Air matanya mulai menetes. Berharap ada keajaiban. Namun, tidak ada apapun. Hingga akhirnya ia memilih untuk pasrah akan semuanya. Dan seketika semuanya menjadi berhenti. Kehidupannya berhenti saat itu bahkan disaat hari bahagianya yang seharusnya ia berkumpul dengan keluarga kecilnya dan bahagia bersama.
Tidak ada yang menyadari kejadian tersebut. Hingga ibunya datang ke ruangan putih itu. Ia kaget. Seketika itu juga tubuhnya ambruk. Ia sedih, menatap putri kesayangannya sudah pergi dan tak akan pernah kembali lagi. Ia menyesali keputusannya, meninggalkan putri semata wayangnya sendiri. Nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa membangkitkan putri kesayangannya. Memang kita tidak tahu kapan hidup kita akan berakhir.
*** TAMAT ***

Comments

Popular posts from this blog

Cara Membuat Es Pisang Ijo (ENGLISH)

Teks Ulasan

4 STRUKTUR TEKS TANGGAPAN KRITIS